Sunday, August 25, 2019
Home > PENGALAMAN SEKS > Cerita Seks – Ngentot Sama Tante Ratih Si Janda Montok

Cerita Seks – Ngentot Sama Tante Ratih Si Janda Montok

Cerita Sex ini berjudul ”Ngentot Sama Tante Ratih Si Janda Montok ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Ngentotbareng.com – Namaku Didit. Saya lahir di satu keluarga pegawai perkebunan yang mempunyai lima orang anak yang semuanya lelaki. Yang tertua yaitu saya. Serta ini jadi akar problem pada kehidupan remajaku. Tidak sering bergaul dengan wanita terkecuali ibuku, akupun jadi canggung bila berdekatan dengan wanita. Maklumlah di sekolahku biasanya juga cowok semuanya, tidak sering wanita.

Narasi Sex Paling baru 2018 Diluar itu saya terasa rendahdiri dengan tampilan diriku dihadapan wanita. Saya tinggi kurus serta hitam, jauh dari tanda-tanda pemuda ganteng. Wajahku buruk dengan tulang rahang bersegi. Karna tampangku yang serupa keling, beberapa rekanku menyebut saya Pele, karna saya sukai main sepakbola.
Tapi meskipun saya buruk serta hitam, otakku cukup encer. Pelajaran pengetahuan tentu serta fisika tidaklah terlalu susah bagiku. Dan saya jagoan di lapangan sepakbola. Tempatku yaitu kiri luar. Bila bola telah tiba di kakiku pemirsa juga akan bersorak-sorai karenanya bermakna bola telah sulit diambil serta tidak juga akan ada yang berani nekad main keras karna bila hingga beradu tulang kering, umumnya merekalah yang jatuh meringkuk kesakitan sesaat saya tidak terasa apa-apa. Serta bila telah sekian lawan juga akan menarik kemampuan ke sekitaran kotak penalti buat pertahanan berlapis, supaya gawang mereka jangan pernah bobol oleh tembakanku atau umpan yang kusodorkan. Cuma tersebut yang dapat kubanggakan, tidak ada yang beda
Tampang buruk muka bersegi, tinggi kurus serta hitam ini begitu mengganggu saya, karna saya sesungguhnya menginginkan sekali miliki pacar. Bukanlah pacar sembarang pacar, namun pacar yang cantik serta seksi, yang ingin diremas-remas, dicipoki serta dipeluk-peluk, bahkan juga bila dapat lebih jauh sekali lagi dari itu. Serta ini problemnya. Kotaku itu yaitu kota yang masih tetap kolot, terlebih di lingkungan tempat saya tinggal. Pergaulan pada lelaki serta wanita yang sedikit mencolok jadi sorotan tajam orang-orang. Serta jadi bahan gunjingan ibu-ibu antar tetangga.
Oh ya mungkin saja ada yang ajukan pertanyaan kenapa kok masalah miliki pacar atau tidak miliki pacar saja demikian perlu. Ya tersebut. Rahasianya saya ini miliki nafsu syahwat besar sekali. Entahlah, mungkin saya ini seseorang *********. Lihat ayam atau ****** main saja, saya dapat tegang. Tiap-tiap pagi penisku keras seperti kayu hingga mesti dikocok hingga muncrat dahulu baru menyusut kerasnya. Serta bila muncrat bukanlah main banyak yang keluar. Mungkin saja karna ukuranku yang lebih panjang dari ukuran rata-rata. Serta saban lihat wanita cantik syahwatku naik ke kepala. Terlebih bila terlihat paha. Saya dapat tidak dapat berfikir apa-apa sekali lagi bila gadis serta wanita cantik itu lewat di depanku. Senjataku segera tegang bila lihat dia jalan berlenggak-lenggok dengan panggul yang berayun ke kiri serta ke kanan. Ngaceng setelah seperti siap bertanding.
Dia? Ya dia. Maksudku Lala serta ….. Tante Ratih.
Lala yaitu murid salahsatu SMU di kotaku. Kecantikannya jadi buah bibir beberapa cowok lanang seantero kota. Dia tinggal dalam jarak sebagian tempat tinggal dari rumahku, jadi tetanggaku juga. Saya sesungguhnya menginginkan sekali kalau Lala jadi pacarku, tapi mana dapat. Cowok-cowok bagus termasuk juga anak-anak penggede pada ngantri ngapelin dia, coba membuatnya pacar. Nyaris semuanya bawa mobil, terkadang mobil dinas bapaknya, mana dapat saya berkompetisi dengan mereka. Kadang-kadang kami berpapasan bila ada aktivitas RK atau kendurian, namun saya tidak berani menegur, dia juga nampaknya tidak tertarik akan berteguran dengan saya yang muka saja bersegi serta hitam juga. Ya pantaslah, karna cantik serta dikejar-kejar banyak pemuda, bahkan juga orang berusia juga, dia jadi sombong, mentang-mentang. Atau mungkin itu cuma argumenku saja. Yang benar yaitu, saya memanglah takut sama wanita cantik. Berdekatan dengan mereka saya gugup, mulutku terkatup gagu serta nafasku sesak. Itu Lala.
Serta ada satu sekali lagi wanita yang buat saya gelisah bila ada di dekatnya. Tante Ratih. Tante Ratih tinggal persis di samping rumahku. Suaminya penyuplai yang menghadirkan sebagian bahan keperluan perkebunan kelapa sawit. Karenanya dia seringkali melancong. Terkadang ke Jakarta, Medan serta ke Singapura. Baru saja mereka jadi tetangga kami. Entahlah orang dari daerah mana suaminya ini. Tapi saya tahu Tante Ratih dari Bandung, serta dia ini wuahh mak … benar-benar audzubile cantiknya. Muka cakep. Putih. Bodinya bagus juga, dengan panggul diisi, paha kuat, meqi tidak tipis serta pinggang ramping. Payudaranya juga indah kenceng cocok dengan bentuk tubuhnya. Sempat di acara pentas terbuka di kampungku saat tujuhbelas agustusan dia menyumbangkan peragaan tari jaipongan. Wah saya benar-benar kagum.
Serta Tante Ratih ini rekan ibuku. Walaupun usia mereka berselisih mungkin 15 th., tapi mereka itu pas keduanya. Bila bergunjing dapat berjam-jam, maklum saja dia tidak miliki anak serta seperti ibuku tidak bekerja, cuma ibu rumahtangga saja. Kadang-kadang ibuku datang ke tempat tinggalnya, kadang-kadang dia datang ke rumahku.
Serta satu rutinitas yang kulihat pada Tante Ratih ini, dia sukai duduk di sofa dengan menambah samping atau ke-2 kakinya di lengan sofa. 1x saya baru pulang dari latihan sepakbola, waktu buka pintu kudapati Tante Ratih sekali lagi bergunjing dengan ibuku. Rupanya dia tidak menduga saya juga akan masuk, serta cepat-cepat turunkan samping kakinya dari sandaran lengan sofa, tapi saya telah pernah lihat celah kangkangan ke-2 pahanya yang putih padat serta celana dalam merah jambu yang membalut ketat meqinya yang bagus cembung. Saya mereguk ludah, kontolku kontak berdiri. Tanpa ada bicara apa pun saya selalu ke belakang. Serta mulai sejak itu panorama sepintas itu senantiasa jadi obsesiku. Tiap-tiap lihat Tante Ratih, saya ingat kangkangan paha serta meqi tidak tipis dalam pagutan ketat celana dalamnya.
Oh ya tentang Tante Ratih yang tidak miliki anak. Saya mendengar ini kadang-kadang jadi keluh-kesahnya pada ibuku. Saya tidak tahu benar kenapa dia serta suaminya tidak miliki anak, serta tak tahu apa yang disebutkan ibuku tentang hal tersebut untuk menghibur dia.
Terlebih? Oh ya, ini yang paling perlu sebagai asal-muasal narasi. Bila bukanlah karna ini mungkin takkan ada narasi hehehhehe …. Tante Ratih ini, dia takut sekali sama setan, tapi anehnya sukai nonton film setan di tv hehehe …. Kadang-kadang dia nonton dirumah kami bila suaminya sekali lagi ke kota beda untuk masalah bisnesnya. Pulangnya dia takut, lantas ibuku menyuruh saya mengantarnya hingga ke pintu tempat tinggalnya.
Serta berikut permulaan narasi.
Disuatu hari tetangga samping kanan tempat tinggal Tante Ratih serta suaminya (kami di samping kiri) wafat. Wanita tua ini sempat berkelahi dengan Tante Ratih karna masalah remeh. Bila tidak salah karna masalah ayam masuk tempat tinggal. Hingga si wanita wafat karna penyakit bengek, mereka tidak berteguran.
Tetangga itu telah tiga hari dikubur tidak jauh di belakang tempat tinggalnya, pada saat suami Tante Ratih, Om Hendra pergi ke Singapur untuk masalah bisnes pasokannya. Selama seharian sesudah suaminya pergi Tante Ratih uring-uringan sama ibuku di rumahku. Dia takut sekali karna pada saat masih tetap hidup tetangga itu menyebutkan pada beberapa orang kalau hingga di kuburpun dia akan tidak sempat berbaikan dengan Tante Ratih.
Kelanjutannya saat saya pulang dari latihan sepakbola, ibu menyebutku. Tuturnya Tante Ratih takut tidur sendirian di tempat tinggalnya karna suaminya sekali lagi pergi. Serta pembantunya telah dua minggu dia berhentikan karna didapati mengambil. Karenanya dia menyuruhku tidur di ruangan tamu di sofa Tante Ratih. Awal mula saya keberatan serta ajukan pertanyaan kenapa bukanlah salah seseorang dari adik-adikku. Kukatakan saya harus sekolah besok pagi. Yang sesungguhnya seperti telah saya katakan terlebih dulu, saya senantiasa gugup serta tidak tenteram bila berdekatan dengan Tante Ratih (tapi sudah pasti ini tidak kukatakan pada ibuku). Kata ibuku adik-adikku yang masih tetap kecil akan tidak menolong buat Tante Ratih tenteram, sekali lagi juga adik-adikku itupun takut bebrapa janganlah didatangi arwah tetangga yang telah mati itu hehehehe.
Lantas malamnya saya pergi ke tempat tinggal Tante Ratih lewat pintu belakang. Tante Ratih nampaknya senang saya datang. Dia kenakan daster tidak tebal yang membalut ketat tubuhnya yang sintal padat.
“Mari makan malam Dit”, ajaknya buka tudung makanan yang telah terhidang di meja.
“Saya telah makan, Tante, ” kataku, tapi Tante Ratih memaksa hingga akupun makan juga.
“Didit, anda kok pendiam sekali? Berbeda benar dengan adik-adik serta ibumu”, kata Tante Ratih pada saat dia menyendok nasi ke piring.
Saya susah mencari jawaban karna sesungguhnya saya tidak pendiam. Saya tidak banyak bicara cuma bila dekat Tante Ratih saja, atau Lala atau wanita cantik yang lain. Karna gugup.
“Tapi Tante sukai orang pendiam”, sambungnya.
Kami makan tanpa ada banyak bicara, habis itu kami nonton tv acara panggung musik pop. Kulihat Tante Ratih berlaku hati-hati supaya jangan pernah dengan tidak sadar menambah kakinya ke sofa atau ke lengan sofa. Usai acara musik kami teruskan ikuti warta berita lantas filem yang sekalipun tidak menarik. Karenanya Tante Ratih mematikan tv serta mengajak saya terlibat perbincangan bertanya sekolahku, aktivitasku keseharian serta apakah saya telah miliki pacar atau belum juga. Saya menjawab singkat-singkat saja seperti orang blo’on. Nampaknya dia memanglah menginginkan mengajak saya selalu terlibat percakapan karna takut pergi tidur sendirian ke kamarnya. Tetapi karna lihat saya menguap, Tante Ratih pergi ke kamar serta kembali membawa bantal, selimut serta sarung. Dirumah saya umumnya memanglah tidur cuma menggunakan sarung karna penisku seringkali tidak ingin kompromi. Tertahan celana dalam saja dapat mengakibatkan saya terasa tidak enak bahkan juga kesakitan. Tante Ratih telah masuk ke kamarnya serta saya baru melepaskan baju hingga cuma tinggal singlet serta melepaskan celana blujins serta celana dalamku menggantinya dengan sarung saat hujan dibarengi angin kencang terdengar diluar. Saya membaringkan diri di sofa serta menutupi diri dengan selimut wol tidak tipis itu saat nada angin serta hujan ditingkah gemuruh guntur serta petir sabung menyabung. Angin juga makin kencang serta hujan semakin deras hingga tempat tinggal itu seperti bergoyang. Serta mendadak listrik mati hingga semuanya gelap gulita.
Kudengar nada Tante menyebut di pintu kamarnya.
“Ya, Tante? ”
“Tolong rekani Tante mencari senter”.
“Dimana Tante? ”, saya mendekat meraba-raba dalam gelap ke arah dia.
“Barangkali di laci di dapur. Tante ingin kesana. ” Tante barusan menggunakan kalimatnya waktu tanganku menyentuh badannya yang empuk. Nyatanya persis dadanya. Cepat kutarik tanganku.
“Saya sangka kita tidak membutuhkan senter Tante. Tidakkah kita telah ingin tidur? Saya telah mengantuk sekali. ”
“Tante takut tidur dalam gelap Dit”.
“Gimana bila saya rekani Tante agar tidak takut? ”, saya sendiri terperanjat dengan kalimat yang keluar dari mulutku, mungkin saja karna telah mengantuk begitu. Tante Ratih diam sebagian waktu.
“Sebentar sekali lagi ya Tante, ” kataku memohon, serta dia mengangguk tahu. Lantas saya meneruskan melampiaskan kocokanku yang barusan terlambat. Kusenggamai dia sekali lagi sejadi-jadinya serta berahinya naik kembali, ke-2 tangannya kembali merangkul serta memiting saya, mulutnya kembali menerkam mulutku. Lantas sepuluh menit lalu saya tidak bisa sekali lagi menghindar air mani-ku menyemprot berulang-kali dengan hebatnya, sesaat dia kembali berteriak tertahan dalam lumatan mulut serta lidahku. Liang vaginanya berdenyut-denyut mengisap serta memerah sperma-ku dengan hebatnya seperti barusan. Kakinya melingkar memiting panggul serta pahaku.
Persetubuhan nikmat di antara kami nyatanya berulang serta berulang serta berulang serta berulang sekali lagi saban ada peluang atau persisnya kesempatan yang digunakan.
Suami Tante Ratih Om Hendra miliki hobbi main catur dengan Bapakku. Bila telah main catur dapat berjam-jam. Peluang tersebut yang kami pakai. Paling gampang bila mereka main catur di rumahku. Saya datangi selalu Tante Ratih yang umumnya berhelah menampik tapi pada akhirnya ingin juga. Saya juga nekad coba bila mereka main catur dirumah Tante Ratih. Serta umumnya bisa pula walaupun Tante Ratih lebih keras menampiknya awal mula. Hehe bila saya tidak percaya bakalan bisa pula pada akhirnya manalah saya juga akan demikian degil menekan serta membujuk selalu.
Tiga bln. setelah momen pertama di saat hujan serta badai itu saya ketakutan sendiri. Tante Ratih yang lama tidak kunjung hamil, nyatanya hamil. Saya cemas bebrapa bila bayinya kelak hitam. Bila hitam pasti dapat gempar. Karna Tante Ratih itu putih. Om Hendra kuning. Lantas kok bayi mereka dapat hitam? Yang hitam itu kan si Didit. Hehehehe … tapi itu narasi beda lagilah.

Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Pasutri.

Hayoo siapa yang masih kuat belalainya setelah baca cerita di atas?? 😀
Masih bisa lanjut gan atau sudah crot ?
Kalau masih kuat bisa lanjut ke konten di bawah ya sahabat ngentot ^_^

Lihat Juga:  Malam Natal Penuh Kenangan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.